cover pupi

Aku dan Pupi, Malaikat Kecilku … Selamat Jalan, Nak. Aku Selalu Menyayangimu

Rasanya, proses menulis artikel ini adalah waktu terpanjang sepanjang hidup saya … Sebelumnya terima kasih karena telah menyempatkan untuk mampir dan membaca cerita ini. Suatu kebahagiaan jika cerita ini dapat membuat hari Anda menjadi lebih berarti. Dan suatu kehormatan bisa berbagi mengenai pengalaman ini -mempunyai seorang sahabat dari ia hadir dalam kehidupan saya sampai akhirnya harus berpisah secara raga. Cerita ini adalah tentang saya dan teman saya, anak saya, sekaligus sahabat saya. Namanya singkat dan lugas.. PUPI.

 

……………………

 

Perkenalkan, nama saya Angelous Bobby Fernando. Saat ini, saya bekerja sebagai seorang project manager di bidang Software Development di salah satu perusahaan di Yogyakarta. Bekerja di bidang ini membutuhkan kreativitas serta keterampilan yang seimbang untuk menghasilkan hasil yang baik. IT, Information Technology, bidang kuliah inilah yang saya ambil 9 tahun yang lalu. Dan kira – kira 7.5 tahun lalulah lahir seorang malaikat kecil yang akan membawa perubahan besar dalam hidup saya.

Cerita ini dimulai dari kisah romantisme klasik mahasiswa, dimana yang jika dipikir lagi pada saat ini, saya tidak merekomendasikan Anda untuk meniru atau melakukan hal serupa dengan kami pada waktu itu. Bulan Desember 2007, saya dan pasangan saya (pada saat ini teman dekat) pergi berjalan – jalan ke pasar Ngasem (yang saat ini menjadi pasar kerajinan) di Yogyakarta, Indonesia. Pasar Ngasem dulunya digunakan oleh kebanyakan orang untuk memperjualbelikan satwa, baik itu burung, hamster, tikus putih, kucing, anjing, bahkan tokek maupun kelelawar. Pada saat itu, somehow kami bercakap dan membicarakan topik “Jika punya anjing, mau yang seperti apa?”… Pada saat kami berkeliling, pasangan saya menunjuk seekor anjing dengan corak putih-coklat-hitam, namun saya berkata “itu nantinya jadi besar loh…” sedangkan ia tidak mau anjing besar karena akan cukup merepotkan penghuni rumah lainnya. Lalu kami melanjutkan perjalanan sampai tiba di ujung barat pasar… Ya, disana kami melihat seekor anjing kecil yang dipisahkan dengan anjing – anjing lain. Bukan karena anjing ini special, bukan juga karena bagus… Anjing coklat kecil ini dipisahkan karena masih relatif kecil dan ia ditempatkan di kandang kelinci bersama kelinci – kelinci lain yang besar tubuhnya hampir sama dengan dia.

Saya menunjuk anjing itu, “Bagaimana dengan yang itu?”.. Lalu pasangan saya bilang “kasian banget.. tapi bisa besar gak ya? masih lucu yang tadi (anjing putih-coklat-hitam)”… Ya, tentu anjing tadi lebih lucu, karena ia bersih, ditempatkan sendirian, dan aktif.. sedangkan anjing coklat kecil ini sangat pemalu, pandangan matanya sayu dan ditempatkan di kandang kelinci yang penuh dengan kelinci – kelinci aktif serta makanan kelinci yang berserakan. Berikut percakapan -bodoh- yang saya lalui bersama mas penjual tersebut.

S (saya): “Mas, anjing yang ini.. kenapa di sini (kandang kelinci) ?”

P (penjual): sambil mengeluarkan anjing itu, dia bilang “Soalnya kecil mas, nggak ada tempat lagi. Lagi cari anjing?”

S: “Nggak Mas, kami masih lihat – lihat dulu kali ini… Ini anjing bisa besar gak Mas ?”

P: “Nggak bisa besar mas, paling besar ya besar dikit lagi, bisa dibawa – bawa, memang turunannya kecil”

S: “Ini anjing jenis apa Mas ?”

P: “Ini….. (sambil diam sejenak)… itu loh mas.. Anjing jenis Pudding?”

S: “Pudding ?”

P: “Iya, pudding… Nih mas, anjing ini kalau ditaruh di tangan akan diam (sambil menaruh pupi di telapak tangan si penjual, memang posenya seperti kucing pembawa keberuntungan…)”

S: (dalam hati… pudding = makanan kenyal – kenyal) “Oh… gitu… masa si mas ? ini nggak bisa besar lagi ? umurnya berapa mas?”

P: “Udah 4 bulan ini mas.. makanya gak bisa besar lagi”

S: (dalam hati …. mana mungkin 4 bulan seperti ini…. $$#@@##) “Ya sudah mas… nanti saya lihat – lihat dulu ya”

P: “Oke…”

 

Setelah itu kami pulang ke kediaman masing – masing… Di rumah, saya tidak bisa berhenti memikirkan anjing kecil itu. Dan saya tidak bisa memeliharanya karena orang – orang di rumah saya tidak bisa hidup berdampingan dengan anjing. Munculah ide untuk memberikan anjing kecil itu kepada pasangan saya, yang memang seorang penyayang satwa dan hatinya sangatttt baik… hanya satu masalahnya, pada saat itu ia tidak begitu tertarik dengan anjing kecil itu. But whatever.. saya sudah jatuh cinta dengan si kecil itu. Seberapa keras saya berpikir, saya selalu mengingatnya sepanjang hari…. Keesokan harinya, saya pergi ke pasar Ngasem lagi dan menemui penjualnya. Saya mengatakan kepada penjual itu bahwa saya akan beli anjing itu dan akan segera saya lunasi. Si penjual setuju dan bilang bahwa saya bisa kembali keesokan harinya….

Sesuai perjanjian, keesokan harinya saya membawa pulang anjing kecil itu di dalam semacam anyaman tas rotan berlubang. Ya, anjing itu memang kecil… Sebelum melunasi pembayaran, ternyata ada seorang bapak – bapak yang ingin menawar dengan harga yang lebih tinggi, namun syukurlah si penjual ini tetap tidak memberikannya karena sudah berjanji kepada saya. Ya.. mungkin memang sudah takdir ya.. dia adalah makhluk kecil yang mungkin memang takdirnya hadir dan dipertemukan dengan kami :) Pulanglah saya dengan-nya, ketika sampai di rumah, saya masih ingat betul bagaimana wajahnya memandang saya… matanya yang kecil dan berbinar, sedikit penuh ketakutan dengan lingkungannya yang baru.. aku mengangkatnya dari tas rotan itu, dan meletakkannya di lantai… ia langsung bersembunyi masuk ke bawah kursi. Dan duduk disana… ia bingung… tidak ada lagi kelinci – kelinci di sekitarnya.. dan rasanya lantai keramik ini, mungkin baru pertama kali ia rasakan…..

Kecil1

This little brown angel

 

Malam pertama itu, mama saya melarang untuk memasukkannya ke dalam kamar. Jadi di dalam kardus yang sangat besar, saya masukkan handuk – handuk agar ia hangat dan semangkuk minuman (air).  Sore hari beberapa jam sebelum itu, ia makan nasi dan hati ayam dengan lahap. Mungkin makanan pertamanya di rumah saya inilah yang membuat ia begitu pilih – pilih makanan ke depannya, mungkin ia sudah jatuh cinta dengan hati ayam setelah ia hanya makan sayur – sayuran bersama dengan para kelinci. Ia selalu lebih memilih makan masakan rumah, tidak ada satupun jenis / merk dog food yang dia suka ataupun mau disantap sepanjang hidupnya. Mau yang rasa apapun, mau yang baunya menggiurkannya seperti apa. Ia tidak pernah makan dog food atas kemauannya sendiri. Yang ia lakukan… mencium baunya.. lalu ditinggal pergi dan berbaring dengan tenang. hahaha! Oh.. Pupi !

Semalaman itu, saya terjaga setiap satu-dua jam, membuka jendela kamar untuk melongok ke dalam kardus tersebut. Saya sangat khawatir dengannya.. Entah bagaimana awalnya, mungkin disini lah pertama kali dalam hidup saya, saya merasakan khawatir berlebihan terhadap non-human race. Rasanya tidak seperti “maaf” sekedar hewan peliharaan, namun lebih dari itu. Saya mulai menyayanginya… Terkadang ia menangis.. dan terdiam lagi ketika saya membuka jendela kamar .. seperti anak bayi … begitu seterusnya.. hingga pagi menjelang dan kami beraktivitas lagi.

23 Desember 2007, sekitar jam 9 pagi, saya membawanya ke rumah tinggal barunya, tempat tinggal pasangan saya pada saat itu, sebut saja Ai, mama manusianya- yang kelak akan sangat amat menyayanginya dan sangat memperhatikannya. Pertamanya, Ai kaget bercampur senang, namun juga bingung karena ingin menolak tetapi tidak bisa.. ya, mungkin rasanya seperti memberikan kerepotan kepadanya, sedangkan di satu sisi, ia dihadapkan pada satu makhluk kecil yang sangat menyentuh hatinya. Akhirnya, anjing kecil itu, hidup bersama Ai dan keluarganya. Anjing itu kami beri nama Pupi. Terkadang kita berfantasi menyebut nama lengkapnya Prince Pupi, atau menyebutnya Pupito, tapi nama asli dan namanya memang hanya Pupi.

 

Kecil2

Pupi kecil di rumah Ai

 

Jika diingat lagi, apa yang saya lakukan sungguh egois. Saya yang ingin Pupi, namun saya memberikannya kepada Ai karena saya tidak bisa merawatnya di rumah. Ya, walaupun ini sedikit berbeda dengan trend memberikan anak anjing / kucing sebagai hadiah dan benar – benar menganggap hadiah itu sebagai barang, tapi tetap saja tindakan saya ini tidak bisa dibenarkan. Seharusnya sayalah yang merawatnya sendiri, dan berusaha untuk bersamanya setiap saat, bukan Ai…. But I was reckless, I was young and dumb. Fortunately, it’s never to be too young too dumb too realize. Kami tidak pernah menyesal sedikitpun dengan kehadiran Pupi, perlahan tapi pasti, Tuhan menunjukkan apa yang Ia rencanakan melalui kehadiran anak ini.

Singkat cerita… Pupi tumbuh besar dengan sehat (mari melupakan cerita anjing pudding versi sang penjual)… Ia selalu divaksin dan diberi obat cacing secara rutin. Ia memang pemilih makanan, tetapi selalu makan dengan lahap. Tidak pernah sakit. Berkutu pun mungkin hanya satu-dua kutu di beberapa tahun terakhirnya. Pupi adalah pemersatu kami. Dengan kehadirannya, ia mengajarkan banyak sekali hal yang sebelumnya tidak pernah kami tahu, kami alami, atau kami pikirkan sebelumnya. Bisa dibilang, Pupi berperan besar dalam mendewasakan kami. Ia adalah salah satu alasan saya giat menabung dan menyelesaikan studi secepat – cepatnya. Ia pula yang mengajarkan saya arti menyayangi, memberi tanpa pamrih, tanpa pernah mengharapkan imbalan atas sayangmu. Ia menjadi alasan saya berbahagia ketika pulang kerja. Ia menjadi motivasi saya untuk menjadi lebih baik. Ia menyambut saya dengan kegembiraan. Ia mengajarkan kesetiaan. Pupi jugalah yang menjadi jembatan antara saya dan Animal Friends Jogja. Tanpa kehadirannya, tidak mungkin hati dan pikiran saya akan bisa menjadi sedekat ini dengan satwa. Dengan kehadirannya, Pupi membawa sesuatu yang berbeda ke dalam kehidupan saya; kedamaian, serta cinta. Ketika ribut dengan pasangan sekalipun, sosok Pupi lah yang membuat saya cepat lupa dan melupakan masalah – masalah yang ada. Ketika kami pergi, kami sangat khawatir, kami selalu pergi bergantian jika harus ke luar kota. Ya, Pupi sangat menyayangi kami dan jarang mau mempercayai orang lain. Mungkin baginya, hidupnya hanya Ai… dan kemudian baru saya… Yahhh… Pupi selalu menjadi tokoh sentral dalam hidup kami.. semua hal baik telah ia bawa.. dan tidak ada hal buruk yang dia tinggalkan kepada kami …

Februari 2014, jadwal untuk Pupi diberi vaksin per-tahunnya, berbeda dengan sebelum – sebelumnya, kali ini, Pupi divaksin di tempat yang berbeda dan kali ini saya tidak ikut mendampinginya :( tiga minggu setelahnya, sebuah insiden kecil terjadi ketika Pupi potong kuku, karena berontak, kepalanya kejedug (terbentur) kursi kayu yang ada di dekatnya. Keesokan dini harinya, Pupi mengalami kejang. Sampai saat ini kami masih tidak tahu, apakah ini murni penyakit bawaan yang sudah ada dalam gen-nya dan terpicu karena insiden tersebut, atau karena vaksinasi yang bisa jadi bocor dan bereaksi karena kejadian tersebut… Whatever it was.. Kami langsung membawanya ke klinik dan melakukan beberapa test untuk memastikan penyakitnya. Klinik demi klinik, dokter demi dokter kami panggil seiring berjalannya waktu karena kejang tersebut masih terjadi (walau frekuensinya tidak dapat diprediksi). Entah berapa biaya yang sudah kami keluarkan untuk Pupi, namun itu bukanlah hal yang penting. Kami hanya ingin Pupi sehat kembali. Selama setahun belakangan, Pupi harus menangguk berbagai macam obat dan pengobatan tradisional. Keadaan sebenarnya semakin membaik… walau sempat memburuk sesaat, namun overal, semuanya semakin membaik…

Pupi, anjing kecil yang kuat, ia memang manja… namun ia sangat baik. Saya tahu dia berusaha sembuh dan hadir agar kami bersatu kembali. Beberapa kali dia mencoba menunjukkannya kepada saya, ketika kami berjalan bersama, maupun tidur bersama. Beberapa kali pula, ia mencoba untuk menunjukkan bahwa ia masih anjing yang aktif, suka bermain, dan menginginkan perhatian dari kami. Namun kami harus mengontrolnya, ia tidak boleh kecapekan, dan livernya harus kami jaga baik – baik (efek obat – obatan kapsul medis selama setahun belakangan). Setahun belakangan, kami cukup sibuk dengan pekerjaan kami, dan bertemu Pupi setengah dari waktu yang biasa kami berikan kepadanya. Namun, salah satu dari kami selalu ada untuknya. Pupi, tetap setia menunggu kami pulang dengan wagging tailnya . Betapa tidak, untuk anjing berumur 7.5+ yang mempunyai riwayat sakit seperti itu., melompat tinggi sampai ke dada bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilakukan. Pupi juga masih naik turun tangga dengan luwes, walaupun memang kecepatan dan keseimbangannya sudah tidak sekuat dulu. Usia Pupi semakin bertambah, ya… tidak terasa umurnya sudah 7.5 tahun.

Tanggal 24 April 2015, tanggal yang tidak akan terlupakan dalam hidup saya. Saya masih tidur pagi itu dan terbangun karena Ai menelpon saya. Ia mengatakan bahwa Pupi kejang jam 6 tadi, sempat berhenti lalu kemudian kejang lagi dan tidak berhenti, Ai meminta saya untuk segera mencari air kelapa dan membawakannya ke rumah. Saya sudah merasa bahwa sesuatu yang tidak enak akan terjadi. Secepatnya saya langsung ganti kaos dan pergi mengendarai motor saya berkeliling mencari air kelapa. Selama perjalanan, Ai bilang bahwa saya harus cepat, karena ia sudah lelah memberi nafas buatan dan perlu digantikan. Sedapatnya, saya langsung secepat mungkin menuju rumah Ai. Selama perjalanan, firasat hati ini sudah sangat berat, dan yang bisa terucap hanya “Tunggu Pupi.. Tunggu aku… JANGAN KENAPA – KENAPA. PLEASE … ”

Setengah jam setelah telpon pertama itu berdering, saya sampai di rumah Ai membawa air kelapa tersebut. Ai sedang berusaha meminumkan norit, namun Pupi sudah terlihat sangat lemah dan lemas. Di dalam hati kami, kami tahu bahwa mungkin ini saat – saat terakhirnya, saat dimana kami harus berpisah dengannya, namun kami terus berusaha. Saya mendekatinya dan memanggilnya “PUPI… Pupiii”.. dan saat itulah mata Pupi merespon panggilan saya. Nantinya, Ai berkata bahwa selama kejang, mereka terus memanggil namanya, namun pada saat saya memanggil namanya itulah, mata Pupi baru merespon. Saya tahu.. Saya tahu….  Saya tahu bahwa ia sadar saya telah hadir di sana. Dan selama beberapa detik itu adalah pandangan mesra terakhir yang ia berikan kepada saya, mata ke mata, kami bertukar energi dan perasaan kami untuk terakhir kalinya. Kami terus membelainya, memanggilnya, saya menggantikan Ai untuk memberinya nafas buatan. Tentunya dengan perasaan yang sungguh campur aduk. Hati ini terasa sangat sakit melihat anak kami mengalami hal itu.

Pupi… Pupi… kami terus berharap bahwa akan ada keajaiban yang datang.. Namun mungkin memang inilah saatnya. Saya menarik tangan Ai di belakang dan bilang bahwa dia harus ikhlas, panggil Pupi dan bilang terima kasih atas semuanya. Tangan saya terus menopang sisi samping leher pupi dan saya menyaksikan nafas terakhirnya. Dengan sisa tenaganya, ekornya terangkat tinggi dan turun perlahan, seakan mengatakan bahwa “Inilah saatnya.. saya pamit pergi dulu ya Mama.. Papa… Terima kasih sudah mengantar Pupi sampai akhir”. Usaha terakhir nafas buatan saya lakukan, walaupun saya tahu bahwa itu sia – sia… Ya, anak kami, sahabat kami, cinta kami, Pupi telah pergi. Kami hancur….

Kejadian ini berlangsung lima – tujuh menit setelah kedatangan saya. Selama kurang lebih satu jam, Pupi berusaha untuk melawan kejangnya dan bertahan tetap ada. Sekarang saya tahu, Pupi pasti menunggu saya datang. Menunggu untuk berpamitan untuk terakhir kalinya dengan saya. Menunggu untuk bisa memandang saya terakhir kalinya… sebelum jiwanya berpisah dengan raganya. Ia sungguh anak yang sopan, ia sungguh anak yang berbakti, ia sungguh – sungguh menyayangi kami.

 

Hidup ini seperti pensil yang pasti akan habis, tetapi meninggalkan tulisan-tulisan yang indah dalam kehidupan – Nami

 

Selamat jalan, anakku sayang, sahabatku, adikku, malaikatku, Pupi-ku sayang. Terima kasih atas segala tugas yang telah kau emban di dunia ini. Segala kegembiraan, kebahagiaan, pengetahuan, kesetiaan, pelajaran, pengharapan, yang telah kau berikan kepada kami.

Beberapa hari sebelum kejadian ini, Mungkin Tuhan telah mengingatkan saya betapa saya harus bersyukurnya atas kehadiran Pupi… Tiga hari belakangan, ada bulu – bulu yang terbang di kamar saya, yang selalu saya lihat ketika saya membuka lemari pakaian saya. Padahal tidak ada anjing / kucing di rumah saya. Selama beberapa hari terakhir saya berhubungan dengan relasi – relasi serta teman – teman saya pun, kita selalu membicarakan tentang betapa baiknya memelihara anjing, dan malam sebelum kejadian, saya baru bilang kepada salah seorang teman saya bahwa “Aku sudah punya anak kok.. Pupi itu anakku !!”.

Terlepas dari semua ini, teman – teman pembaca, kami sangat bersyukur karena kami diberi kesempatan untuk mendampingi Pupi di saat – saat terakhirnya. Pupi juga pasti senang dan tenang sekarang karena sebelum ia pergi, ia ditemani oleh keseluruhan hidupnya. Setelah berbagi tulisan ini, semoga teman – teman pembaca yang mempunyai hewan peliharaan, bisa lebih menghargai mereka, dan katakan bahwa kalian sangat menyayangi mereka. Ketika nanti waktunya tiba, semoga teman – teman juga bisa mendampingi mereka. Yang mereka inginkan adalah kasih sayang kita, perhatian kita, dan cinta kita. Bagi mereka, kita ini hidupnya.

 

Pupi… Mungkin senyummu tidak lagi terlihat secara kasat mata.

Mungkin ekormu tidak lagi berkibas ketika aku berkunjung atau memanggil namamu.

Mungkin tangan kecilmu tidak lagi bisa kurasakan ketika kamu merayuku untuk memberi makanan atau meminta keluar, atau bahkan mengajakku bermain.

Tapi kamu akan selalu ada di ingatanku.. Kamu akan selalu ada di hatiku…

Kesayanganku.. Selama lamanya.. Sampai nanti kita bertemu lagi… Jaga kami dari sana ya ^^

 

Rest In Peace, Pupi – 24 April 2015 – 07.45

 

Mengenang sahabat dan anak kami satu – satunya, Pupi.. Semoga galeri foto ini dapat memberi senyum pada semua kehidupan …

 

Ini Pupi, anak kami ketika masih sangat kecil …

 

Kecil3

 

Pupi tumbuh sehat, kuat, dan ganteng.. seperti papanya …

 

MyCoolSon

 

 Senyumnya itu … Uuuuhhh !! Melelehkan hati banyak wanita ..

 

farewellsmile

 

Kami suka berkendara bersama …

 

drivetogether

 

Dulunya Pupi takut naik mobil …

 

farewell

 

Namun perlahan – lahan Pupi terbiasa …

 

drivetogether2

 

Kemudian sangat menikmatinya …

 

angelSmile

 

Dan kamipun berfoto bersama di dalam mobil …

 

SAMSUNG

 

Pupi sering mengajak kami berjalan bersama …

 

DogWalk

 

Kadang bersama Mamanya …

 

alwaysTogether

 

Kadang bersama Papanya …

 

BestBuddies2

 

Terkadang pula Pupi menggoda anjing lain ketika berjalan … “Hey lihat, aku jalan bersama keluargaku”

 

Photo1971

 

Pupi seorang penjaga yang bisa diandalkan :)

 

justAngel

 

Dan sangat dicintai oleh keluarga kami …

 

A Family

 

Banyak hal yang telah kami lalui bersama ….

 

BAGUS

 

Antara Aku dan si maskot Mozilla Firefox ini

 

firefox

 

Dengan lonjakan khas-nya … Kami menari bersama …

 

that jump

 

Kami saling menyandarkan tubuh …

 

BestBuddies

 

Kami tidur bersama …

 

InMybed

 

 

Kami tertawa bersama ..

 

ThatSmile

 

Kami juga saling marahan. (sama – sama gengsian) …

 

tiduran

 

Tapi bagaimanapun juga, kami saling menyayangi … #Selfie!

 

selfies

 

Melihatnya tidur nyenyak adalah kebahagiaan tersendiri buatku …

 

cuteangel

 

Dan ketika melihatnya di pagi hari … Itu tiada duanya !

 

Dari Atas tempat tidurku

 

Pupi selalu setia menemaniku di kala susah maupun senang …

 

Ini adalah foto ketika saya membuka kantor pertama di lokasi pertama dan baru menyusun ruang

Ini adalah foto ketika saya membuka kantor pertama di lokasi pertama dan baru menyusun ruang

 

Di kala semua meninggalkanku, ia akan selalu siap menemaniku …

 

guardian

 

Dan mempersatukan kami dengan caranya sendiri …

 

 

lookingForMom

 

 

Kami juga menonton Piala Dunia bersama – sama …

 

WatchWorldCup

 

Bahkan Siaran TV pun bersama …

 

siaranTV

 

Entah berapa Natal yang ingin kami lalui bersama …

 

 

Xmas

 

Tapi nasib berkata lain … Pupi jatuh sakit :(

 

struggling2

 

Selama setahun lebih Pupi berjuang melawan penyakitnya …

 

struggled1

 

Pupi dibawa ke beberapa klinik dan diperiksa oleh banyak dokter hewan …

 

KeKlinik

 

Tapi tidak ada satupun yang tahu pasti apa penyakitnya …

 

klinik

 

Pupi adalah seorang pejuang ! Dia banyak beristirahat selama setahun belakangan …

 

loveSandalJepit

Pupi sangat suka dengan bau kaki mamanya ! ^^

Dan kami terus mensupportnya …

 

Heating Pad

 

Keadaan sempat membaik … Beberapa bulan terakhir, Pupi menjadi sangat penyayang … dan manja… ^^

 

innocent pupi eye

 

Bahkan dua minggu sebelumnya, kami mengupload video di Instagram …

 

https://instagram.com/p/1TcEtKyIPN/

https://instagram.com/p/1TcEtKyIPN/

Namun jalan hidup telah diatur.. Pagi itu kejangnya kembali kambuh dan Pupi tidak tertolong :(

 

20150424_090825

 

Kami sangat kehilangan… Namun kami harus ikhlas … Pupi pasti tenang, karena kami semua menghantar kepergiannya bersama – sama …

 

20150424_090914

 

Perjuanganmu sungguh hebat, Nak. Sekarang penderitaanmu karena penyakit itu telah selesai. Beristirahatlah dengan tenang, Pupi …

 

20150424_092948

 

Mungkin ragamu tidak terlihat lagi di bola mataku. Namun kamu akan selalu hidup di dalam hatiku …

 

20150424_123201

In memory of Pupi – our beloved Sons – Desember 2007 – 24 April 2015

 

 

- Aku selalu menyayangimu dan kamu akan selalu menjadi kesayanganku -

alwaysTogether2

 

—————————————

 

Ini adalah akhir dari tulisan ini. Terima kasih karena telah membacanya. Silakan sebarkan cerita ini jika merasa hal tersebut baik untuk dibagikan. Jika teman – teman berkenan, saya memohon ikhlasnya teman – teman pembaca untuk mendoakan Pupi agar arwahnya naik ke Surga dengan baik dan segala karma buruknya dihapuskan. Pupi adalah pemersatu. Sampai di akhir hidupnya pun, Pupi selalu berusaha mempersatukan kami kembali. Sebagai seorang aktivis satwa, jika pada masa lalu atau masa depan banyak satwa yang tertolong melalui saya, tolong jangan lupakan bahwa itu semua berkat sesosok Pupi. Pupi adalah inspirasi saya, Pupi adalah motivasi saya dalam menolong satwa. Jadi ini semua karena Pupi, dan untuk Pupi.

 

Tulisan ini saya dedikasikan untuk anak saya tersayang, Pupi dan untuk mamanya yang selalu memberikan yang terbaik untuknya, Aida.

Bersatulah kembali dengan alam, sayangku … Akan tiba saatnya kita berjumpa kembali :)

 

Pelukan hangat dari hati yang terdalam,

Angelous Bobby Fernando

 

Facebook Comments

comments