Untitled-1

Manusia butuh alam untuk hidup, Alam tidak butuh manusia untuk hidup

Ironi yang akan saya tulis ini mungkin terkesan sedikit ringan dan tidak menyeluruh, atau sebagian dari Anda akan menertawakan tulisan ini karena berasa seperti anak remaja yang ikut – ikutan. Tapi, saya akan tetap menulis ini dari sudut pandang saya sebagai rakyat, sebagai seorang independen, dan sebagai seorang yang biasa bekerja di balik layar.

Tadi pagi, ketika sarapan dan menikmati jus apel bikinan mama, saya membuka channel favorit saya, AXN, dimana sedang diputar serial “Sherlock”. Karena serial itu hanya siaran ulang dan membosankan, saya mengganti channel dan menonton Metr0 TV, dimana sedang disiarkan secara Live acara Trade Expo Indonesia 2014 yang bertemakan Toward Green Business. Acara tersebut sedang menampilkan Pak Muh. Lutfi, menteri perdagangan Indonesia periode ini, yang sedang membawakan pidato Bahasa Inggris di depan Pak Jokowi, dan para pengusaha lainnya.

Di dalam isinya, ada beberapa pesan yang saya tangkap dan cermati. Saya tidak begitu menyimak angka – angka yang beliau utarakan, sehingga saya tidak menyebutkan dengan pasti angka – angka tersebut di sini. Namun dengan sedikit kemauan dan kerja keras, pasti Anda akan menemukannya di hasil pencarian mesin pencari :) Kebetulan saya juga sedang makan dan membaca koran pada saat yang bersamaan, sehingga masing – masing indra (pendengaran, penglihatan, dan perasa) sedang melakukan fungsinya masing – masing.

Saya menerima penyampaian tentang bagaimana Indonesia sudah menjadi pasar yang sangat “HOT” bagi para produsen otomotif terutama bagi para produsen Jepang. Bidang otomotif ini telah tumbuh pesat dan terus berpotensi menghasilkan angka (big money) yang naik beberapa kali lipat selama perkembangannya dari tahun 200x hingga tahun 201x. Para produsen ini bertahan sekian lama (survival) di Indonesia, dan masyarakat di Indonesia sendiri menjadikan moment ini sebagai peningkatan ekonomi. Sehingga semuanya bisa berjalan dengan baik bagi industri ini.  Di saat bersamaan, beliau juga menyampaikan alert bagi pemerintah, bahwa  Indonesia, khususnya Jakarta, akan menjadi sangat amat padat dan traffic nya akan macet hingga beberapa kali lipat. (4x lipat kalau tidak salah ingat) jika kondisi ini dibiarkan terus menerus dan tidak diimbangi dengan regulasi baru.

Dalam pidatonya, Pak Lutfi juga menegaskan tentang produksi beras, dimana Indonesia adalah penghasil beras terbesar ketiga di dunia. Namun kenapa Indonesia masih mengimport beras? Tidak lain karena beras itu habis dimakan oleh rakyatnya sendiri (wow…). Kemudian beliau juga menyinggung bahwa ini saatnya berbenah, mesin – mesin lama tersebut harus diganti dengan teknologi yang lebih maju agar kualitas beras semakin baik. Masyarakat saat ini menuntut kualitas beras yang lebih baik, sehingga beras – beras yang ada saat ini terpaksa diimport untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Yaaa… sampai saat ini semuanya dapat diterima dan isi pidatonya sangat bagus. Namun ada blunder yang menurut saya ambigu untuk dikatakan. Beliau menyampaikan bahwa para pedagang dan pelaku trade wajib dan harus terus memperhatikan aspek lingkungan, bukan dengan MELINDUNGI namun MENGADAPTASI (atau dengan bahasa lain yang berarti serupa) …

Maksudnya apa ? Contoh yang sangat saya ingat adalah tentang CPO. Beliau mengatakan bahwa tekanan yang dialami para pengusaha CPO pada akhir – akhir ini membuat para pengusaha CPO berjanji untuk terus menerapkan teknologi dan cara yang lebih canggih yang tidak merusak lingkungan. Jujur, hal ini sangat saya sayangkan. Memang benar, penerapan teknologi tersebut (jika memang ada) wajib untuk dilakukan, walau yang lalu – lalu sudah terkena dampaknya. Namun ada hal lain yang bisa dilakukan dan harus segera dilakukan untuk mencegah kerusakan alam ini berlanjut ke level yang membuat panik.

Yang pertama, tentunya pertegas aturan dan hukuman bagi pelaku kebakaran hutan, baik orang lapangan maupun perusahaan induknya ! Yang kedua, adalah regulasi untuk tidak lagi membuka lahan sawit yang baru. Yang ketiga, ganti rugi atas kerusakan alam yang sudah diperbuat oleh pihak – pihak tersebut (terlepas dari itu tanah milik siapa). Yang keempat, tentunya dengan pengenalan dan pengujian minyak lain yang lebih ramah lingkungan, kaya manfaat, dan digunakan sebagai alternatif dari Palm Oil. Jika minyak beras atau jagung dirasa terlalu berat, Anda bisa mencoba minyak kelapa (non-sawit).

 

Ini memang bukan menjadi tanggung jawab dari Pak Menteri Perdagangan, ini tanggung jawab kita semua. Namun jika ingin menunjuk batang hidung, ada satu orang yang sebenarnya berkuasa untuk menangani dan mengelola permasalahan – permasalahan ini. IRONIS nya… baru hari ini juga, saya mendengar kabar bahwa Mr. ZH terpilih dan menjabat sebagai ketua MPR. I was like ####$#$$^^%^%^% when I read about that !

Ya… Menteri Kehutanan tentu adalah orang yang paling berkompeten mengurus masalah ini. Forestry, Wildlife, Natural Resources.. sesuatu yang menjadi KEKAYAAN sejati dari Indonesia. Masih ingat di benak saya, betapa kerasnya perjuangan teman – teman untuk menutup sirkus keliling lumba – lumba di Indonesia. Bahkan masih jelas di ingatan, bagaimana Mr. Ric O’Barry datang, mengenakan vest anti peluru dalam kunjungannya ke Indonesia untuk membahas mengenai perlindungan terhadap satwa liar di Indonesia bersamanya. Pada saat itu, Pak ZH berjanji untuk segera mempelajari dan menuntaskan masalah ini. Jadi, sampai dimana sekarang kita, Pak ?

Sampai saat ini, saya masih melihat dan mengikuti bagaimana lumba – lumba tersebut MAKIN dieksploitasi karena tidak ada tindakan nyata dari janji palsu Pak ZH. Bahkan terakhir, aktivis yang menggelar aksi damai di BALI diserang oleh preman – preman dari pihak yang seharusnya bapak tangkap, pihak yang sudah mengeksploitasi kekayaan alam Indonesia, menyiksa lumba – lumba, dan membodohi anak – anak kecil. Ayuk diulang… sampai dimana sekarang kita, Pak ?

Okayyy.. move on.. masalah yang mungkin akan membuka mata teman – teman lebih besar lagi adalah bagaimana awal tahun ini kita semua dikejutkan dengan sebuah video dari Harrison Ford untuk film dokumenter “Years of Living Dangerously” yang sengaja datang ke Indonesia untuk mencari tahu beberapa hal mengenai kerusakan hutan di Indonesia. Di video ini Harrison Ford mencari dua hal, yang satu adalah tentang taman nasional Tesso Nilo dan satu lagi tentang ijin untuk pembukaan lahan pelestarian alam yang tidak kunjung keluar dari Pak Menhut. Jika dilihat dari sistem demokrasi dan pendekatan yang dilakukan Pak Menhut, sebenarnya tidak buruk, namun yang perlu diingat, waktu kita terbatas Pak.. dan jangan lupa bahwa Indonesia punya hukum. Satwa – satwa seperti harimau sumatera, gajah sumatera, dan orang utan juga menggantungkan nasib mereka pada Bapak. Kelestarian Alam Indonesia akan habis jika Bapak tidak pernah mencari solusi dan bertindak cepat dalam menanggulangi masalah – masalah ini.

Manusia butuh alam untuk hidup, namun Alam tidak butuh manusia untuk tetap hidup

Yaa… Masalah – masalah tadi adalah beban yang akan diteruskan oleh Menteri Kehutanan selanjutnya. Lalu dimana Ironis nya ?

Untuk informasi teman – teman, sekarang Pak ZH sudah terpilih menjadi ketua MPR Indonesia loh… Taaadaaaa … !

Selamat ya Pak ZH ! Walaupun saya sendiri cukup terkejut melihat prestasi Bapak selama ini. Namun mungkin para politikus dan orang – orang yang kepentingannya lebih besar jauh lebih berharap kepada Bapak ! Semoga Bapak bisa tetap bijak dan terus berkarya berdasarkan hati nurani dan dilandaskan dari, oleh, dan untuk kepentingan rakyat !

Beberapa link untuk referensi terkait dengan tulisan ini:

P.S: I love what he (Harrison Ford) is doing for us, and I hate what he (ZH) was not doing for us.

If you are agree or care about this, please re-share ~

Thanks & Regards,

Bobby Fernando

 

Facebook Comments

comments