political

Aku dan Politik Satwa

Sebenarnya sudah sejak lama saya ingin menulis tentang ini, namun karena berbagai alasan dan ‘mencari pengertian’, saya memutuskan untuk menundanya sekian lama. Lalu kenapa saya akhirnya memutuskan untuk meluangkan sedikit waktu untuk mencurahkannya dalam tulisan ?

Ya, anggap saja saya sudah terlalu lelah karena selama ini berada di balik layar, membaca berbagai macam informasi, mencoba untuk memahami keadaan, perasaan, serta sifat berbagai macam orang, mencoba untuk memporsikan dengan benar empati saya kepada makhluk – makhluk yang hendak ditolong, lembur, berpikir dengan keras untuk mencoba menyusun rencana A, B, C (yang pada akhirnya belum tentu berhasil) .. serta sampai melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana niat, sifat, dan sikap seseorang yang memproklamasikan dirinya sebagai pahlawan namun tindakannya nol besar (baca: ngelindur!).

Sejujurnya pada awalnya saya tidak peduli dengan semua itu. I don’t really care with all of that bullsh#t about saving animals – with terms and conditional (means: as long as there’s cash to move our a$$). I’m not interested in Politik Satwa, ya begitu saya menyebutnya (nanti juga Anda akan paham tentang istilah ini). Lama kelamaan saya jengah juga  ketika akhirnya merasakan bahwa masih banyak orang – orang jujur dan tulus yang membantu tanpa pamrih, berkekurangan, dan membutuhkan uang untuk benar – benar melakukan kerja sosialnya (they work REALLY hard – begging for shared donations -) tidak dilihat, tidak dihargai, tidak dijamah. Sedangkan, para pencari muka dan pencari uang ini terus bergerak dengan lihainya dan menyerap uang untuk kepentingan pribadinya. Okay, mari kita sebut mereka dengan istilah Fake Rescuer (FR).

A: “Gan, kepentingan pribadinya seperti apa sih? Maksudnya uang apa nih yang dipakai?”

B: “Singkatnya FOYA FOYA dek… Mau contoh konkritnya ? Uang yang mereka dapat dari sumbangan mereka pakai untuk bayar hutang, beli minuman keras, mabuk – mabukan, beli rokok setiap hari, dan tentunya jalan – jalan gratis.”

A: “Waduh!!! Trus.. uangnya habis gan? Nasib hewan – hewan yang diselamatin bagaimana?”

B: “Ya nasibnya antah berantah dek… uangnya habis donk.. nggak tahu juga kalau dilarikan ke tabungan pribadi :)”

A: “Terus gimana donk?”

B: “Gimana apanya?”

A: “Kalau gue mau bantu tapi nggak ada waktu and tenaga, gue cuma bisa nyumbang uang aja.. Terus gimana cara bedainnya yang asli dan enggak?”

B: “Asli dan enggak itu sama – sama blur dek.. Sekarang nggak ada jaminan kalau organisasinya ada, orang – orangnya jelas, ada artisnya atau enggak, ada public figurenya atau enggak, dll nya jelas, belum tentu yang bersangkutan itu asli atau palsu.”

A: “Nah, gue makin bingung sekarang.. lalu nggak usah donasi aja, gitu?”

B: “Bukan.. bukan begitu… Masih banyak sekali orang – orang berhati baik di luar sana, baik yang berbadan hukum atau enggak, personal atau individu, punya pacar atau jomblo (loh… salah fokus!) yang membutuhkan bantuan. Bantuan berupa donasi uang itu penting, sangat penting. Karena satwa – satwa yang diselamatkan tetap butuh uang untuk beli keperluan medis dan hidupnya sehari – hari, dek”

A: “Ya.. gue ngerti. Terus apa aja yang harus dipertimbangkan sebelum menyumbang (donasi)?”

B: “Sebelum menyumbang / berdonasi, cek dulu validitas organisasi atau track record dari yang bersangkutan, pelajari apa visi misinya, dan lihat juga kegiatan – kegiatan mereka. Langkah kedua adalah melihat perkembangan (update) tentang kasus – kasus terdahulu, karena sebuah kasus rescue tidak akan selesai ketika rescue selesai, namun tantangan baru dimulai setelah kegiatan rescue selesai. Langkah ketiga adalah bertanya kepada rekan – rekan lain yang sudah menyumbang atau pernah datang ke lokasinya, bagaimana kondisi anjing / kucing / satwa lain yang ada di sana, apakah ada dedicated staff / volunteer yang bertugas, dll”

A: “Ada lagi?”

B: “Ya, sebenarnya banyak cara untuk memastikan… antara lain, mintalah laporan keuangan per bulan atau per tiga bulan untuk tahu sumbanganmu lari kemana. Bisa juga mainlah ke lokasi tersebut sekali – kali untuk mengecek langsung keberadaan, kevalidan, dan sekaligus sharing kasih sayangmu kepada satwa – satwa tersebut”

A” Ah, ya ya ya! Kalau sosmed?”

B: “Ya itu tadi, lihat perkembangan updatenya, dek. Kalau dia cuma omdo dan nge-tweet setiap saat, terus kapan rescuenya? :)”

A: “Iya juga ya… kapan dia makan, mandi, ngegame, jalan – jalan, dkk nya ya kalau nge-tweet terus…?”

B: “hahaha.. bisa aja kamu, dek… Pikirin juga kapan dia rawat anjing / kucing yang dia selamatin kalau nge-tweet terus. Di organisasi gue aja sampai nggak ada yang bisa nge-tweet karena kerepotan, ngurus satwa rescue itu ibarat ngurus anak jalanan yang harus adaptasi sama tempat baru, lingkungan baru. Kita juga harus didik dia supaya jadi anak baik dan nggak ngrepotin terus. Belum lagi kalau sakit..Belum lagi kalau belum bisa makan sendiri.. atau masih nyusu.. Kalau mereka nggak manis, mana ada yang mau sama mereka. Hehehe.. ”

A: “wah.. nice info gan! Kapan – kapan sharing lagi yah..”

B: “Siap!”

Percakapan di atas hanya sebagai ilustrasi atas apa yang ingin saya jelaskan di sini. Di dalam dunia animal welfare, Anda pasti sering mendengar istilah “Rescue”. Rescue ini Bahasa Indonesianya menyelamatkan. Maka orang – orang yang merescue ini sering dianggap pahlawan / hero oleh orang lain karena dianggap telah berjasa menyelamatkan satwa tersebut. Dengan image seperti superhero ini, mereka dikenal banyak orang, dikagumi banyak orang, dan menjadi panutan semu bagi banyak orang. Padahal, tidak sedikit juga orang yang mengaku sebagai rescuer, atau orang yang ber-profesi sebagai rescuer :)

Rescuer sejati pasti paham bahwa uang mereka sering terkuras habis untuk menjalankan aktivitas real yang ada di balik rescue, pre dan pasca rescue. Berbeda dengan rescuer abal – abal / fake rescuer yang hanya gaya – gayaan. Berbeda juga dengan FR yang menjadikan rescue satwa sebagai lahan uang (profesi). Bedanya, walau tidak punya banyak uang, rescuer sejati selalu dapat menemukan jalan keluar untuk permasalahannya, sedangkan FR pada akhirnya akan jatuh dan kembali ‘mengemis’.

stopbeggin

Politik Satwa, kenapa saya menyebutnya begitu? Layaknya politik yang terjadi di pemerintahan, di dalam dunia ini juga ada berbagai instansi yang saling gengsi, tidak mau bekerja sama, bahkan saling menyerang dari belakang. Mereka menganggap bahwa dengan menjadi terkenal, pundi – pundi mereka akan semakin menggembung. Mereka menganggap bahwa dengan menjatuhkan lawannya, maka namanya sendiri akan naik, orang akan senang untuk membantu mereka dan dengan mudahnya memuluskan segala hal yang dapat membuat mereka semakin dipandang baik. Orang – orang ini lupa akan tugasnya, orang – orang ini lupa apa tujuan asli mereka, orang – orang ini tidak bisa membedakan mana realita dan hoax, orang – orang ini tidak tahu tujuan, dan orang – orang ini hanya peduli akan diri mereka sendiri. Yah, situasi yang sama kan dengan para poli-tikus di pemerintahan kan? :)

Masih banyak lagi kejadian – kejadian yang lain yang saya rasa tidak enak jika diceritakan dan dibuka ke publik. Namun, bolehlah saya sedikit memberi bukti akan adanya politik satwa dan juga contoh kasus yang terjadi oleh para FR ini. Sebagai catatan, segala yang saya tulis di blog saya adalah tulisan saya sendiri, tidak ada titipan, catatan, atau keberpihakan :) Semua yang saya tulis adalah apa yang mau saya tulis dan tidak melibatkan organisasi manapun.

 

Contoh pertama: The DS

Singkat saja, karena saya ingin membahas panjang kasus yang nomor dua.

Masih ingat kasus DS ? Pelaku penembakan kucing di Yogyakarta (Sleman) yang sampai saat ini kasusnya masih menggantung? Yaa… bagi sebagian orang tentu masih ingat benar kasus ini sampai heboh dan diliput oleh banyak media serta televisi. Sebuah kesempatan bagi seseorang untuk masuk dan menjadi “hero” bagi kucing yang ditembak mati tersebut. Well ….

1

FYI, kasus ini memang terjadi di Yogyakarta. Tapiii tapi tapiii…..  yang mengherankan tentunya, ada sebuah organisasi pembela satwa asal Jakarta yang tanpa permisi dengan rekan organisasi yang lebih tua dan berada di Yogyakarta (lokasi kejadian) langsung memasukkan laporannya ke pihak berwajib. Sebenarnya tidak masalah sih, hak beliau untuk melakukannya, tapi cukup taulah kenapa organisasi ini tidak mau berkoordinasi dengan kami walaupun rekan – rekan di Jogja sudah mencoba untuk mengontak dan menghubungi organisasi ini langsung ke nomor handphone relasi – relasinya. Ya, kesempatan untuk menjadi Hero dan dikenal lebih menggiurkan daripada menahan diri sebentar untuk berkoordinasi. Hasilnya ? Organisasi yang di Jogja tidak bisa menjadi pelapor karena sudah didahului oleh mereka. Padahal jika kasus ini di follow up dengan baik s.d pelaku mendapat hukuman setimpal, kasus ini dapat menjadi tolak balik dan contoh kepada orang – orang yang masih suka menyiksa satwa agar berpikir ulang jika masih meneruskan kebiasaannya. Nasi sudah menjadi bubur, saat ini sang pelapor tentunya kerepotan sendiri jika harus menghadiri sidang yang berulang – ulang di Yogyakarta, mengikuti perkembangan kasus, proses, dan lainnya karena yang bersangkutan berdomisili di luar kota (JAKARTA tepatnya). Ya… Perkembangan terakhir, DS mungkin akan bebas. 1 – 0 my friend, dan ini just s*cks karena ulah para politikus satwa ini. OH! Mereka tidak peduli ya?

 

Contoh kedua: The Fake Rescuer’ Victims!

Cerita ini sangat panjang, namun saya berusaha menulis sesingkat – singkatnya supaya Anda tetap bisa mengikutinya. Ya, cerita ini tentang Pickle (dulunya Piko), Celine dan Bravo. Ketiga anjing ini saat ini berada di Animal Friends Jogja temporary house, tempat kami merawat dan memelihara anjing – anjing yang di-abuse, di-telantarkan, un-wanted, bahkan yang born to be death (di-konsumsi). Pickle, Celine, dan Bravo diselamatkan dari kediaman rumah kontrak seseorang yang mengaku sayang satwa dan meng-ikrarkan diri sebagai seorang rescuer. Orang ini sangat rajin nge-tweet! Konon kabarnya, tidur pun dia sambil berjalan. Sebut saja namanya Jono (nama aslinya tidak perlu disebutkan, semua juga mudah tahu).

9 Januari 2014, beberapa rekan AFJ dan JAAN mendapat laporan valid dari beberapa orang bahwa si Jono mempunyai masalah pribadinya dan hendak berpindah kota tinggal menuju Jakarta. Masalah timbul karena si Jono tidak tahu harus bagaimana terhadap satwa – satwa rescue yang ada di tempat tinggalnya. Ya.. akhirnya diputuskan untuk menuju tempat tersebut untuk mengecek langsung berita tersebut, dan benar, rumahnya terkunci rapat dan digembok. Dari dalam tercium aroma kotoran menandakan bahwa anjing – anjing di sana telah berada di dalam rumah cukup lama, tidak diajak keluar, dan rumah tidak dibersihkan. Di dalam ada 6 anjing bernama Celine, Piko (pickle), Holy, Marduk, Sapi, Bravo, dan 1 kucing bernama Mogu – mogu di tempat tersebut. Khusus Bravo ditempatkan di halaman belakang rumah secara terpisah karena Bravo mempunyai kebiasaan agresif terhadap anjing lain maupun dengan manusia yang belum dia percaya. Gambar di bawah ini ketika tim sudah berhasil masuk (keesokan harinya) ke dalam rumah.

Screen Shot 2014-11-07 at 7.56.30 AM

Karena tidak bisa masuk ke dalam rumah dan gagal menemui Jono, tim rescue mencari informasi kepada orang sekitar dan bertemu dengan sang pemilik rumah kontrakan tersebut, mari kita sebut Pak Noel. Pak Noel mengatakan bahwa ini bukan kali pertama Jono dan pacarnya meninggalkan rumah lebih dari 1 hari. Sehingga dapat dikatakan, selama ditinggal, anjing – anjing yang ada di dalam rumah tidak diberi makan. Kami tidak tahu pastinya, semoga saja ada dog food yang ditinggalkan. Namun mengingat Holy dan teman – teman adalah anjing ras besar, sepertinya meninggalkan dog food pun bukanlah hal yang semestinya dilakukan jika memang si Jono peduli dan sayang kepada mereka. Selain resiko kelaparan, ada juga resiko keamanan yang dapat terjadi. Jika pergi, Pak Noel hanya dapat memberi makan Bravo yang ada di luar dengan cara melempar makanan.

Tempat Bravo tinggal di halaman belakang pun cukup mengenaskan, tidak ada tempat berteduh yang layak, hanya ada sebuah toilet yang bisa dia pergunakan untuk berteduh. Tanaman – tanaman cukup tinggi dan tidak dirapikan. Ember air yang ditinggalkan pun penuh dengan gumpalan lumut. Poor, Bravo!

Screen Shot 2014-11-07 at 8.07.15 AM

Pak Noel membukakan paksa sedikit jendela yang ada agar tim dapat melihat kondisi rumah dan memahami keadaan. Ada sebuah kasur, TV, selain tentunya pup dan bekas air kencing anjing dimana – mana. Singkat kata, hari pertama, tim pulang dengan beberapa informasi tambahan, termasuk ada juga seorang wanita yang tempo hari mencari si Jono untuk meminta kejelasan uang donasi yang telah diberikan selama ini. Keesokan harinya, tim kembali lagi dengan itikad baik untuk bertemu dengan si Jono. Si Jono akan pindahan ke Jakarta pada akhir minggu tersebut dan nasib anjing – anjing rescue ini masih terombang ambing. Akhirnya setelah beberapa perdebatan dan percakapan, si Jono setuju untuk menyerahkan anjing – anjing tersebut ke AFJ, yaitu: Celine, Piko, dan Bravo, sedangkan Holy, Marduk, Sapi, dan Mogu – Mogu akan dibawa oleh pacar si Jono untuk dirawat di tempat lain.

Anggota tim rescue lainnya segera meluncur ke lokasi untuk proses evakuasi. Ditemani oleh Farida, rekan paramedis kami dari Animal Care Samos, Yunani, ketiga anjing tersebut akhirnya dibawa ke rumah singgah AFJ untuk diobati dan dirawat kemudian hari. Dari hasil pemeriksaan singkat tersebut, semuanya diketahui mempunyai jamur dan sakit kulit demodex. Setelah pemeriksaan selesai dilakukan, ketiga anjing tersebut direlokasikan dan ini menandakan selesainya tim rescue kami melakukan rescue anjing rescue-an dari orang yang mengaku sebagai rescuer.

Screen Shot 2014-11-07 at 3.58.01 PM

Akhir kata, Celine, Pickle, dan Bravo membutuhkan bantuan dari kamu semua. Sakit kulit membutuhkan perawatan intensive sampai dengan penyakitnya bisa benar – benar sembuh dan keadaannya dijaga agar tidak kambuh, dan untuk melakukan itu di organisasi kami, tantangannya sangat besar, mengingat banyaknya anjing yang memerlukan perhatian, perawatan, latihan, dan kebutuhan khusus. Beginilah nasib satwa – satwa ‘jajahan’ tersebut, ada yang dibuang, ada yang tidak diinginkan, ada yang dijadikan alat penghasil keturunan, ada yang traumatic, etc.. bantulah mereka: Adopt don’t shop! Cegahlah keadaan serupa muncul kembali. Dengan membantu pencegahan hal tersebut, Anda juga akan membantu kemungkinan munculnya para FR yang memanfaatkan lahan ini untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Ya… kiranya tulisan ini bisa membuka pikiran Anda untuk lebih cermat dalam bertindak dan menyikapi kasus – kasus yang terjadi di sekitar Anda :)

 

Keadaan Celine, Pickle, Bravo bulan September – Oktober 2014. Sakit kulitnya belum bisa sembuh.

FYI, si Jono ini sekarang adalah anggota tim rescue ‘GeSI’ di bawah komando mbak artis WWF yang sering masuk koran akhir – akhir ini, entah apa yang dipikirin sama kamu dan teman – teman di sana Mbak. You guys lost my respect, that’s it :)

Summary singkat saja tentang Aku dan Politik satwa ini.

Setidaknya gue bisa bangga sama diri gue sendiri, gue ga terkenal, gue jarang difoto, gue ga masuk TV, gue ga bohongin orang, gue ga ambil uang sepeserpun dari satwa – satwa itu, gue cari uang dari keahlian dan kemampuan gue sendiri, walaupun sedikit, tapi gue bisa ngasih, bukan ngambil. Itu hasil keringet gue, dan gue yakin hasilnya bermanfaat buat mereka. Nggak ada yang kenal gue, tapi cinta yang gue dapat dari anjing kucing tersebut sudah bikin gue puas.
.
.
.
.
.
.
Fine! Hentikan gaya bahasa lu gue ga’ ada manner ini :x

Jadi, jika Anda tertarik dengan tulisan saya dan nggak #GagalPaham, pastikan Anda mendonasikan uang Anda di tempat yang tepat. Tolong bantu share tulisan saya ini, dan juga tolong bantu organisasi kecil saya di twitter @Animalfriendsyk atau Facebook di AnimalFriendsJogja atau kunjungi websitenya langsung (website ini sumbangan dari relawan juga) di www.animalfriendsjogja.org

Cara berdonasi ada di halaman ini dan Anda bisa baca semua tentang AFJ di website tersebut. Terima kasih yang mendalam!

 

With love and big hope for the best,

Bobb

Facebook Comments

comments

  • Lily Turangan

    Pahaaam xixixi